Syallom,,,!!!!! :)

Jangan Lupa Tinggalkan Coment-nya Ya......... :) :* GBU

Senin, 09 Juli 2012

Sejarah Hubungan "PELA" Negri Allang & Negri Latuhalat..!!! :)

Menurut sejarah hubungan adat pela antara negeri Allang dan negeri Latuhalat sudah berusia hampir 400 tahun yaitu terjadi dipenghujung abad ke XVI (tahun 1615). Masyarakat negeri Allang dan masyarakat negeri Latuhalat telah mengikrarkan suatu sumpah setia suatu janji dalam musyawarah besar di negeri Allang untuk mengikat hubungan pela keras yang merupakan tonggak sejarah antar kedua negeri sebagai wujud dari peristiwa tragis menimpa anak laki-laki seorang pemuda negeri Allang bernama Petrus Huwaë karena
“ Gagal dalam perkawinan membawa kematian.”
Cinta segi tiga yang diperankan oleh seorang wanita dari negeri Latuhalat bernama Costantia Lekatompessy sebagai drama tragis karena sebeluk nama Petrus sebagai calon suami hadir dalam diri Costantia sudah terlebih dahulu seorang pemuda alin dalam negeri Latuhalat telah menjadi kekasihnya yaitu pemuda dari marga Soplantila yang tidak diketahui namanya.Awal pertemuan antara Petrus dan Costantia pemuda negeri Allang dan wanita negeri Latuhalat sebagai berikut:

Disuatu malam yang sunyi sebagaimana biasanya Petrus Huwaë yang pekerjaannya selain sebagai seorang petani di juga sering melakukan pekerjaan nelayan yang pada saat itu mengarungi lautan mencari/memancing ikan dan tatkala perahunya sopa-sopa yang hanyut dibawa arus tiba di dekat sebuah tanjung kedengaran bunyi tifa dan totbuang yang dibawa angin sepoi dari pesisir pantai. Justru bunyi tifa dan suara nyanyi dendang yang bertalu-talu mengguguh hati sang pemuda. Dia berusaha untuk meninggalkan pekerjaannya mendarat dan ingin untuk melihat dari dekat. Tatkala perahu/sopa-sopanya tiba di tepi pantai tepat pada sebuah tanjung bernama tanjung batu konde dan perahu/sopa-sopanya ditarik kedaratan dan berusaha mencari jalan menuju ketempat dari mana datangnya suara dendang tersebut. Satu-satunya jalan menuju ketempat keramaian hanyalah melalui jalan belakang “ kota belo”.
Ketika tiba diatas puncak kota bello disitulah dia menyaksikan suatu keramaian muda mudi masyarakat negeri Latuhalat dan telah menarik perhatiannya guna menyaksikan dari dekat. Pendek cerita dia melangkah dan tiba di tempat keramaian begitu meraih dan menarik hati kemudian datang seorang wanita muda yang belum di kenal nama dan di ajak untuk turut bergembira lalu terjadilah suatu perkenalan dan lebih dari itu Petrus mengjak dan melamarnya sebagai kekasih/tunangannya sambil memperkaenalkan nama dan tempat tinggalnya. Disisnilah perkenalan pertama, dan Petrus tidak bertepuk sebelah tangan karena lamarannya langsung diterima dan sang gadis siap untuk dipersunting menjadi istri dari sang pemuda.
Mendengar jawaban yang tidak terduga sebelumnya Petrus dengan sukacita berpamit dengan kekasihnya Costantia untuk kembali pulang ke negeri Allang dengan janji segera Costantia akan dilamar oleh orang tuanya. Petrus kini kembali ketempat dimana perahu/sopa-sopa berada dan segera kembali mendayungkan perahunya dengan sukacita ke negeri Allang.
Berita disampaikan kepada orang tuanya dan persetujuan diberikan lalu terjadi pertemuan anatara keluarga besar Huwaë dan Lekatompessy di negeri Latuhalat. Lamaran orang tua Petrus diterima oleh orang tua Costantia dan memutuskan waktu dan tempat untuk melangsukan perkawinan yaitu Costantia harus di jemput oleh keluarga Huwaë untuk pernikahan di negeriAllang. Di hari-hari keluarga Lekatompessy mempersiapkan segala keperluan perkawinan anaknya Costantia , tiba-tiba orang tua Costantia di kejutkan dengan menghilangnya Costantia dari rumah orang tuanya kearena telah dibawa lari oleh kekasihnya dari anak keluarga Soplantila. Persitiwa menghilangnya Costantia dari rumah orang tuanya merupakan suatu tragedi karena janji harus ditepati dan nikah harus dilaksanakan.

Keluarga Lekatompessy/ orang tua Costantia berusaha mengambil anaknya sedangkan calon suaminya dari pemuda Soplantila tidak bersedia memberikannya. Terjadilah gempar dalam keluarga Soplantila dan Lekatompessy lalu timbul suatu ide baru dimana tiga keluarga yang saling berhubungan dalam peristiwa ini yakni keluarga Lekatompessy, keluarga Soplantila dan keluarga Latumeten mengambil keputusan untuk membuat patung Costantia dari “meor sagu” yang diperankan oleh keluarga Soplantila pengganti Costantia untuk di dudukkan diatas pelamin pengantin bila tiba waktu untuk menjemput Costantia guna di nikahkan di negeri Allang. Ketiga keluarga bekerja keras dimana Latumeten terkenal sebagai tukang serba guna dengan kepandaiannya untuk mengukir prestasi. Pohon sagu ditebang dan di ambil meornya kemudian dipahat dan dibuat patung Costantia. Soplantila terkenal sebagai seorang penyihir yang ulung dan memasukkan arwah dengan kekuatan magis kedalam diri patung Costantia sehingga patung dapat berkelit tetapi tidak dapat berbicara atau tertawa. Arumbai/belang keluarga Lekatompessy juga telah rampung bersama tatangko tempat pengantin telah dipersiapkan oleh tiga keluarga. Kini saatnya Costantia/pengantin perempuan akan dijemput dan itbalah keluarga Huwaë bersama calon pengantin laki-laki. Patung Costantia sudah di dudukkan dalam tatangko yang di apit oleh anak perempuan keluarga Soplantila yang telah siap dengan segal peralatannya. Tifa dan totobuang bertlau-talu baik keluarga Lekatompessy baik keluarga Huwaë hingga pada acara penyerahan calon pengantin perempuan yang adalah patung Costantia . Petrus duduk bersanding dengan calon pengantin perempuan kekasihnya dengan hati gembira dan mulailah penyihir Soplantila memainkan peranan hingga patung itu dapat berkelit bila di pegang oleh tangan kekasihnya. Keberangkatan rombongan menuju negeri Allang disertai dengan bunyi-bunyian dan dendang berbalasan mewarnai rombongan tersebut pada hal kejadian ini adalah suatu sandiwara belaka yang dipernakan oleh keluarga Lekatompessy dan kawan-kawannya. Costantia sesungguhnya ciptaan Allah sang kekasih yang dicintainya tidak menyanka bahwa cinta segi tiga yang diperankan olehnya bersama keluarganya akan membawa malapetaka bagi sang kekasihnya Petrus yang telah menerima janji setianya menjadi istri untuk selamanya. Rombongan pengantin kini sebentar lagi akan singgah dipelabuhan dan telah ditunggu dengan suatu upacara penerimaan oleh keluarga besar masyarakat Allang.
Soplantila dan kedua keluarga lainnya Latumeten terutama keluarga Lekatompessy dengan hati yang berdebar-debar menantikan saat tertentu bila diketahui oleh keluarga HuwaË apa yang akan terjadi ata semuanya kelak. Dan disaat Petrus karena cintanya yang begitu membara menantikan pembicaraan sang kekasihnya yang dicintainya itu pada hal suatu tipuan karena yang mencium kekasihnya hanyalah patung. Disitulah Soplantila dengan serentak memainkan keahliannya maka patung Costantia itupun serentak melompat dari samping sang pengantin laki-laki kedalam laut dan hilang kedalam dasar laut. Melihat peristiwa yang tidak di inginkan oleh siapapun terutama bagi Petrus sebagai calon suami dengan tidak menunggu waktu Petrus pun langsung meceburkan dirinya bersama seluruh pakaian pengantin menyusul calon istri yang hanya patung buatan manusia.
Itulah saat-saat yang menegangkan bulu roma, suatu peristiwa tragis mewarnai drama keluarga Lekatompessy dan hilanglah Petrus manusia ciptaan Allah Yang Maha Kuasa sedangkan calon istri hanya patung buatan tangan manusia. Di saat-saat yang menegangkan itu timbullah dua ekor buaya laki-laki dan perempuan sebagai tanda dan dijadikan lambang hubungan adat pela antara negeri Allang dan Lautuhalat, yang kini diletakan pada kedua ujung rumah adat / baileuw dalam negeri Allang.
Keluarga Lekatompessy, keluarga Latumeten dan keluarga Soplantila kini merasa puas dan lega karena semua yang direncanakan telah terlaksana pada hal mereka tidak mengetahui bahwa drama yang diperankan oleh mereka kepada keluarga Huwaë terutama bagi Petrus sebagai calon suami anak manusia ciptaan Allah, bahwa di saat-saat genting itu pula telah terjadi kekuasaan Allah terhadap hidup manusia khususnya untuk Costantia yang dengan sadar menghianati calon suaminya, jatuh dan mati seketika dihadapan suaminya keluarga Soplantila tanpa tinggalkan kata dan keturunan.
Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka keluarga Lekatompessy menyadari akan dosa dan perbuatannya telah merampas kemahakuasaan Allah pencipta, lalu dengan sadar ketiga keluarga mengaku kesalahan mereka dan melalui suatu musyawarah besar kedua negeri Allang dan Latuhalat mengikat perjanjian dalam hubungan adat pela keras yang tidak boleh saling kawin satu dengan yang lain antar warga kedua negeri dengan dua ekor buaya sebagai lambang ikatan hubungan pela.
Demikianlah riwajat sejarah hubungan adat pela antara negeri Allang dan negeri Latuhalat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar